Menu

Selasa, 22 Januari 2013

Usaha dan Hakikat

     Sudah sering kita dengar sebuah ungkapan,"Hidup itu pilihan". Entah dari mana ungkapan itu berasal, ia terus saja menghantui benak saya waktu itu. Hingga suatu ketika saya malah melihat ungkapan lain dari sebuah buku salah seorang teman saya, dan ini sangat kontras dengan ungkapan di awal tadi. Di dalam buku itu tertulis,"Menggebunya semangat takkan mampu menembus benteng takdir". Ini soal hakikat kejadian, takdir. Dari kata-kata itu, yang saya pahami adalah segala apa yang ada telah ditentukanNya dan tak akan bisa diubah. Semua sudah terskenario, pikir saya waktu itu.

     Kemudian buku itu saya pinjam dan coba saya pelajari, lama. Sejak saat itu, terus saja saya hidup dengan pemahaman "Menggebunya semangat takkan mampu menembus benteng takdir". Hidup saya santai tiada beban, namun datar dan tak ada semangat berbuat. Tentunya bukan buku itu yang salah, namun pemahaman saya yang amat lemah dan tak dapat menangkap hikmah. Singkat cerita, dalam perjalanan pencarian saya, saya ditemukan dengan ayat Innalloh laa yughoyyiru maa biqoumin, hatta yughoyyiru maa bi anfusihim yang artinya Alloh tak akan mengubah nasib suatu kaum hingga ia mengubahnya sendiri.

     "Lho..lho ini kok beda dengan buku ini",pikir saya waktu itu. Di buku tadi,(menurut pemahaman saya) disebutkan bahwa semua telah terskenario. Nha kok di ayat ini perubahan bisa dilakukan ? Mulai lagi pertanyaan-pertanyaan itu menghantui. Terus saja saya mencari-cari maksud buku itu, dan hubungannya dengan ayat tadi. Maksudnya apa ? Ini bagaimana kok bisa ? terus saja bertanya-tanya. O iya saya belum bilang kenapa buku tadi amat saya percaya, hingga mempengaruhi pemahaman saya. Alasannya karena buku itu berjudul Al Hikam, karya syaikh Ibnu Athoilllah As Sakandari. hehe. Mengenai beliau bisa anda baca di Ibnu Athoilllah As Sakandari.

     Setelah sekian lama mencari dan mengalami kejadian-kejadian, pengalaman, akhirnya cahaya itu datang. Sejauh yang saya pahami, bahwa ternyata benteng takdir memang tak bisa kita tembus. Namun yang menjadi persoalan adalah bahwa kita tidak mengetahui apa yang tertulis dalam Lauh mahfudz-Nya. Maka sudah sewajarnya kita berusaha untuk menjadi lebih baik (dalam segala hal), entah berhasil atau tidak, entah tembus benteng atau tidak. Karena usaha itulah yang akan menunjukkan ADAB / Sopan Santun kita pada-Nya. Adab meminta perubahan, meminta petunjuk. Maka setelah itu Dia akan mengijabah usaha dan doa kita, sesuai dengan ayat tadi.

     Sesuai dengan ricau ust. Salim a. fillah bahwa "Adab itu diatas hakikat."
Singkatnya, semua usaha yang kita lakukan hanyalah alat untuk minta tolong pada-Nya, juga sebagai sopan santun kita meminta pada-Nya. Dan pada akhirnya kita akan melihat segala hasil atau pencapaian yang kita raih pada hakikatnya adalah PEMBERIAN ALLOH, sebuah hadiah dariNya.



Semoga bermanfaat :)
-Insan-

Tidak ada komentar: