Menu

Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 Januari 2013

Suara-suara lembut dan Kesibukan

   Pagi hari aku berangkat kerja. Melaju di jalanan di tengah keramaian kendaraan. Sambil mengendarai motor, ku berpikir,"brisik juga..hadeee." Kemudian ku berdoa,"Ya Tuhan, aku ingin mendengarMu saja." Setelah berdoa dalam hati seperti itu tiba-tiba ku lihat bapak tukang beca yang mengayuh dengan semangat, dan saya seperti mendengar,"Demi anak dan istriku, berilah aku rizkiMu untuk hari ini ya Alloh." "*Glekk."aku kaget. "Oh Aloh karuniakanlah yang baik dan halal dari sisi Engkau.."pintaku.
      Tak lama setelah itu, mataku tertuju pada seorang anak yang mengayuh sepedanya. "Ah dia mau berangkat sekolah."kataku dalam hati.  Tiba-tiba suara itu terdengar lagi,"Ya Tuhan jadikan ilmu yang kucari bermanfaat di kemudian hari." Aku tersenyum (masih) sambil mengendarai motorku. "tiiiiin..tiiin."tiba-tiba seorang anak SMA menyalip dengan kendaraannya. Seakan terbisik,"Perhatikan aku !"
     Aku berhenti di perempatan lampu merah, kulihat ibu-ibu yang bersepeda dengan penampilan orang kaya masa kini, dengan sepeda mewahnya. Namun tak lama kemudian kudengar lagi suara itu berbisik lembut,"Semoga dengan begini badanku bisa sehat.." Astaghfirulloh...
    Oh Tuhan, betapa aku tuli dan tak memahami tanda-tandaMu. Dan betapa Engkau dalam kesibukan selalu, mendengar doa hamba-hambaMu di seluruh penjuru bumi, di waktu pagi hingga pagi kembali, tak henti. Ampunkanlah segala dosa-dosaku, dan tolonglah aku untuk senantiasa bersyukur padaMu, serta hanya dengan RahmatMu, masukkanlah aku kedalam golongan orang-orang yang sholih.

"Setiap saat Dia senantiasa dalam kesibukan." [Ar Rohman : 29]





Semoga bermanfaat.. :)
-insan-

Selasa, 22 Januari 2013

Usaha dan Hakikat

     Sudah sering kita dengar sebuah ungkapan,"Hidup itu pilihan". Entah dari mana ungkapan itu berasal, ia terus saja menghantui benak saya waktu itu. Hingga suatu ketika saya malah melihat ungkapan lain dari sebuah buku salah seorang teman saya, dan ini sangat kontras dengan ungkapan di awal tadi. Di dalam buku itu tertulis,"Menggebunya semangat takkan mampu menembus benteng takdir". Ini soal hakikat kejadian, takdir. Dari kata-kata itu, yang saya pahami adalah segala apa yang ada telah ditentukanNya dan tak akan bisa diubah. Semua sudah terskenario, pikir saya waktu itu.

     Kemudian buku itu saya pinjam dan coba saya pelajari, lama. Sejak saat itu, terus saja saya hidup dengan pemahaman "Menggebunya semangat takkan mampu menembus benteng takdir". Hidup saya santai tiada beban, namun datar dan tak ada semangat berbuat. Tentunya bukan buku itu yang salah, namun pemahaman saya yang amat lemah dan tak dapat menangkap hikmah. Singkat cerita, dalam perjalanan pencarian saya, saya ditemukan dengan ayat Innalloh laa yughoyyiru maa biqoumin, hatta yughoyyiru maa bi anfusihim yang artinya Alloh tak akan mengubah nasib suatu kaum hingga ia mengubahnya sendiri.

     "Lho..lho ini kok beda dengan buku ini",pikir saya waktu itu. Di buku tadi,(menurut pemahaman saya) disebutkan bahwa semua telah terskenario. Nha kok di ayat ini perubahan bisa dilakukan ? Mulai lagi pertanyaan-pertanyaan itu menghantui. Terus saja saya mencari-cari maksud buku itu, dan hubungannya dengan ayat tadi. Maksudnya apa ? Ini bagaimana kok bisa ? terus saja bertanya-tanya. O iya saya belum bilang kenapa buku tadi amat saya percaya, hingga mempengaruhi pemahaman saya. Alasannya karena buku itu berjudul Al Hikam, karya syaikh Ibnu Athoilllah As Sakandari. hehe. Mengenai beliau bisa anda baca di Ibnu Athoilllah As Sakandari.

     Setelah sekian lama mencari dan mengalami kejadian-kejadian, pengalaman, akhirnya cahaya itu datang. Sejauh yang saya pahami, bahwa ternyata benteng takdir memang tak bisa kita tembus. Namun yang menjadi persoalan adalah bahwa kita tidak mengetahui apa yang tertulis dalam Lauh mahfudz-Nya. Maka sudah sewajarnya kita berusaha untuk menjadi lebih baik (dalam segala hal), entah berhasil atau tidak, entah tembus benteng atau tidak. Karena usaha itulah yang akan menunjukkan ADAB / Sopan Santun kita pada-Nya. Adab meminta perubahan, meminta petunjuk. Maka setelah itu Dia akan mengijabah usaha dan doa kita, sesuai dengan ayat tadi.

     Sesuai dengan ricau ust. Salim a. fillah bahwa "Adab itu diatas hakikat."
Singkatnya, semua usaha yang kita lakukan hanyalah alat untuk minta tolong pada-Nya, juga sebagai sopan santun kita meminta pada-Nya. Dan pada akhirnya kita akan melihat segala hasil atau pencapaian yang kita raih pada hakikatnya adalah PEMBERIAN ALLOH, sebuah hadiah dariNya.



Semoga bermanfaat :)
-Insan-

Rabu, 16 Januari 2013

Siap Siaga

     Manusia hidup dengan berbagai cerita yang kita sebut pengalaman. Pengalaman-pengalaman ini merupakan sebuah rangkaian cerita dari kehidupan tiap individu yang akan menghasilkan pemahaman-pemahaman baru. Dan setiap pemahaman akan diuji dengan cerita kehidupan masing-masing pada waktu yang akan datang. Ujian itu bisa berupa kebahagiaan, kesedihan, pertemuan, perpisahan, ataupun kehilangan.

        Pemahaman mengenai segala kejadian atau tragedi yang kita alami menjadi hal yang perlu dipelajari agar hidup kita terasa nikmat, enak, tidak banyak mengeluh, dan tetap semangat. Ada sebuah lagu dari Letto yang berjudul Memiliki Kehilangan. Lagu tersebut mengingatkan saya pada sebuah tabiat, bahwa kita merasa kehilangan, karena kita pernah merasa memilikinya. Di lagu itu tersirat makna bahwa tabiat memiliki adalah kehilangan.  Ini sebuah pemahaman yang sangat mengagumkan. Karena ketika kita memahami bahwa kepemilikan kita itu bukanlah kepemilikan seutuhnya, maka saat terjadi kehilangan itu bisa saja kita anggap hal yang lumrah.  Sehingga kita tidak terlalu sedih, dan bisa tetap optimis.
     
         Jika kita telusuri lebih jauh lagi, dalam Islam telah jelas-jelas diajarkan bahwa,"Sesungguhnya milik Alloh lah segala sesuatu, dan sesungguhnya kepadaNya lah semua kembali." Ini jelas bahwa kita hanya dipinjami saja, karena semua milikNya. Jadi kita harus senantiasa bersiap untuk diambil pinjamannya, dan kita juga harus memahami bahwa akhirnya peminjaman tadi hanya sementara, maka dari itu kita harus senantiasa Siap Siaga.



Semoga bermanfaat....
-Insan-

Minggu, 27 Maret 2011

Tujuan Penciptaan Manusia

Pada pembahasan sebelumnya [Pembuktian adanya Sang Pencipta] anda telah mengetahui bahwa yang memiliki tujuan adalah Sang Pencipta, dan ini juga berarti manusia sebenarnya tidak memiliki tujuan. Pada pembahasan tersebut anda juga telah mengetahui bahwa informasi dari Sang Pencipta telah diketahui yakni Al Qur’an. Maka untuk mengetahui tujuan penciptaan manusia, kita dapat mencarinya di dalam Al Qur’an.

Di dalam Al Qur’an Alloh telah berfirman,”Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu” (Surat Adzariyat ayat 56)

Pada ayat diatas sangat jelas bahwa Sang Pencipta memiliki tujuan dalam penciptaan manusia yaitu agar mereka menyembahNya, atau bisa juga diartikan beribadah kepadaNya. Anda mungkin akan bertanya,“Kok gitu ? Ibadah kan hanya saat kita sholat, sedekah atau puasa saja ?” Tidak demikian, karena di dalam Islam semua telah diatur. Mulai kita bangun tidur hingga kita akan tidur lagi, semua ada do’anya sebagaimana diajarkan Rosululloh Sholallohu ‘alaihi wasallam. Dengan demikian semua aktivitas memiliki nilai ibadah.

Di dalam ayat yang lain Alloh juga telah menjelaskan,“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat : “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Surat Al Baqoroh ayat 30)

Inilah tujuan kedua dari penciptaan manusia, yaitu menjadi seorang khalifah di bumi. Dalam skala kecil khalifah juga dapat diartikan sebagai khalifah(pemimpin) terhadap diri sendiri. Artinya kita dituntut untuk mengendalikan diri kita agar sesuai dengan tujuan penciptaan manusia (untuk menyembah Alloh). Untuk tafsir lebih jelas anda dapat membaca di Ringkasan Tafsir Surat Al-Baqoroh ayat 30 [Menurut tafsir Ibnu Katsir].

Anda sekarang telah mengetahui jawaban dari 3 pertanyaan mendasar (baca Tipe yang Manakah Kita ?)

1. Dari mana kita ? Jawabnya : Dari Sang Pencipta

2. Untuk apa kita hidup ? Jawabnya : Untuk menyembah (beribadah) kepada Alloh

3. Mau kemana kita setelah mati ? Jawabnya : Menuju akhirat, menghadapNya

Wallohua’lam bishowab. Semoga Bermanfaat

(fierdz.schatzy@gmail.com)

Pembuktian adanya Sang Pencipta

Pembuktian adanya Sang Pencipta, dan kebenaran Al Qur’an
Kita telah mengetahui bahwa dunia ini terbagi menjadi tiga bagian yaitu :
• Tata Surya (planet, bintang, satelit, dan benda-benda angkasa lainnya)
• Makhluk hidup (manusia, binatang, tumbuhan)
• Kehidupan
Ketiga bagian diatas memiliki sifat masing-masing, dimana sifat itu yang akan menjadi patokan apakah ia pantas disebut sebagai Sang pencipta ataukah tidak. Berikut adalah penjabarannya :

1. Sifat Tata Surya : Sistem yang diatur (terdapat aturan), tidak kekal dan tidak berdiri sendiri.
2. Sifat Makhluk : Lemah (membutuhkan satu sama lain), tidak kekal (terbatas).
3. Sifat Kehidupan : Memiliki awal dan terbatas.

Dari sifat yang dimiliki masing-masing, anda dapat menyimpulkan bahwa ketiga bagian dunia tersebut tidak pantas disebut Sang Pencipta. Karena ketiga bagian tersebut memiliki sifat yang sama yaitu TERBATAS (tidak kekal). Bagaimana mungkin Sang Pencipta tidak kekal , atau bagaimana mugkin DIA memiliki awal, padahal DIA yang seharusnya yang menciptakan ? Ini juga berarti bahwa Sang Pencipta bukanlah tata surya, makhluk, atau kehidupan. Lalu siapa ?

Tunggu dulu, anda tidak perlu terburu-buru, karena masih ada yang perlu saya perjelas lagi. Namun sampai disini anda sudah mengetahui bahwa Sang Pencipta bukanlah ketiga bagian dunia seperti yang saya uraikan diatas. Dan ketiga benda tersebut adalah ciptaan.

Sekarang mari kita buktikan bahwa Sang Pencipta itu ada. Coba perhatikan pertanyaan berikut ini. Jika ketiga bagian dunia diatas adalah ciptaan, maka pasti ada yang menciptakan ?! Bagaimana tata surya yang sangat luas mengatur system edarnya yang begitu kompleks dan rumit sendirian ? Dan bagaimana pula ia menjaga keteraturan system tersebut ?

Pernahkah pertanyaan semacam itu muncul di benak anda ? Ini menujukkan adanya kekuatan yang tidak terbatas, sesuatu yang maha dahsyat yang mengatur itu semua. Ya, Dialah Sang Pencipta. Dan dapat disimpulkan bahwa Sang Pencipta itu ADA.

Setelah kita tahu bahwa Sang Pencipta itu ada, maka apa yang akan anda lakukan ? Apakah anda akan tetap seperti ini, atau anda akan mencari informasi apa yang menjadi tujuan Sang Pencipta menciptakan anda atau malah akan mengabaikannya ?

Coba kita pikirkan sejenak, sebenarnya yang mempunyai tujuan itu, makhluk atau yang menciptakan ? Tentu saja yang memiliki tujuan itu Sang Pencipta. Maka kita membutuhkan informasi dari Sang Pencipta. Anda mungkin akan bertanya-tanya, “Apa itu?”. Jika anda bertanya demikian maka saya akan menjawab,”Al Qur’an.” Anda mungkin akan bertanya lagi,”Apa Al Qur’an itu benar-benar datang dari Sang Pencipta ?”. Mari kita buktikan !

Ada 3 kemungkinan tentang Al Qur’an
1. Al Qur’an karangan bangsa Arab ?
Dahulu kala, bangsa Arab pernah mencoba membuat surat yang dapat menandingi Al Qur’an namun mereka GAGAL. Seperti yang ada pada beberapa ayat di dalam Al Qur’an itu sendiri :
“Atau mereka mengatakan: “Dia sendirilah yang menggubahnya”. Katakanlah: “Coba gubah sepuluh surat yang sama mutunya:. Panggillah siapa saja yang kiranya dapat membantu kamu, selain daripada Alloh jika memang pihakmu yang benar!”. (Surat Hud ayat 13). Dan pada ayat berikutnya,”Jika mereka ternyata tidak mampu menjawab tantanganmu, maka ketahuilah, bahwa apa yang diwahyukan itu adalah berdasarkan ilmu Alloh.” (Surat Hud ayat 14)

Perhatikan, bangsa Arab pada waktu itu ditantang untuk membuat sepuluh surat yang sama mutunya dengan Al Qur’an akan tetapi mereka tidak dapat membuat yang serupa dengannya meski hanya 10 surat saja. Dan pada ayat yang lain disebutkan,”Atau (patutkah) mereka mengatakan “Muhammad membuat-buatnya.” Katakanlah: “(Kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Alloh, jika kamu orang yang benar.” (Surat Yunus ayat 38)

Kemudian mereka ditantang untuk membuat satu surat saja yang serupa dengan Al Qur’an namun mereka juga tidak mampu. Dari sini dapat disimpulkan bahwa Al Qur’an bukanlah karangan bangsa Arab.

2. Al Qur’an karangan Muhammad ?
TIDAK MUNGKIN ! Anda tahu kenapa saya mengatakan demikian ? Ya, jawabannya karena Muhammad adalah orang Arab, sedang kita telah mengetahui bahwa Al Qur’an bukan karangan bangsa Arab. Alasan yang kedua, di dalam Islam terdapat dua sumber pedoman yaitu Al Qur’an dan Hadits. Hadits inilah yang diketahui sebagai sabda (ucapan), perilaku dan ketetapan Muhammad. Namun diketahui pula bahwa antara Hadits dan Al Qur’an memiliki logat yang berbeda. Jadi Tidak mungkin Al Qur’an adalah karangan Muhammad.

3. Al Qur’an benar-benar Firman Sang Pencipta
Ya tentu saja kemungkinan ini yang BENAR. Karena ketiga kemungkinan yang lain telah gugur. Al Qur’an merupakan wahyu Sang Pencipta yang dibawa Muhammad Sholallohu ‘alaihi wasallam.

Lalu siapakah Sang Pencipta ? Jawabannya tentu saja ada di dalam Al Qur’an, karena anda telah mengetahui bahwa Al Qur’an itu benar-benar dari Sang Pencipta. “Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Alloh yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang- bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.” (Surat Al A’rof ayat 54)

Wallohua’lam bishowab. Semoga Bermanfaat.

(fierdz.schatzy@gmail.com)

Jumat, 18 Maret 2011

Tipe yang manakah kita ?

Di dunia ini, terdapat 2 macam manusia yang saya tahu.

1. Manusia jadi-jadian

2. Manusia sejati

Anda mungkin kaget dengan pembagian dua tipe tersebut, tapi memang begitu adanya.

Sekarang kita akan masuk pada penjelasan poin pertama, yaitu “Manusia jadi-jadian”. Namun sebelum itu kita perlu mengetahui terlebih dahulu bagaimana kriteria manusia jadi-jadian ini :

a. Orientasi hidup tidak jelas

b. Terombang-ambing berbagai hal (pemikiran, jaman dlsb)

c. Hidupnya melelahkan dan merasa tidak tenang

d. Keinginan cepat berubah-ubah

Mungkin sekarang anda sudah mulai ada gambaran ? Pengertian mengenai manusia jadi-jadian tidak lain ada pada jawaban dari pertanyaan “apa yang menyebabkan orientasi tidak jelas ? atau mengapa hidupnya terombang-ambing berbagai hal ? “. Jawabannya ialah “karena ia dipimpin oleh hawa nafsunya !”. Saya perjelas mengenai pengertian ini, manusia jadi-jadian ialah manusia yang dipimpin hawa nafsunya.

Jadi, manusia tipe ini selalu saja memuaskan segala keinginannya tanpa memikirkan manfaat atau akibat dari keinginan tersebut. Naudzubillaahi min dzalik.

Selanjutnya ialah manusia sejati, apa itu ?

Tentu saja manusia sejati memiliki kriteria yang berlawanan dengan manusia jadi-jadian. Diantara kriteria tsb sbb :

a. Tujuan hidup jelas

b. Teguh terhadap apa yang ia perjuangkan

c. Hidup semangat

d. Lebih menggunakan perencanaan / menentukan arah keinginan

Manusia sejati ini, ialah “manusia yang menggunakan akalnya”, dimana akal tersebut yang akan “membedakan mana yang baik mana yang buruk”. Pada titik penggunaan akalnya, ia akan sampai pada pemikiran tentang 3 hal fondamental dalam hidupnya, yaitu :

1. Dari mana kita ?

2. Untuk apa kita hidup ?

3. Mau kemana kita setelah hidup ini selesai (mati) ?

Tiga hal inilah yang menjadi dasar yang seharusnya kita miliki. Mari cob kita renungkan dalam dalam, kemudian temukan jawabannya (MERENUNG, belajar, bertanya pada yang lebih tau dlsb).

Wallohua’lam bishowab. Semoga Bermanfaat.

(fierdz.schatzy@gmail.com)

Senin, 12 Juli 2010

Mengasah Empati dan Simpati

Sering kali seseorang menilai dengan parameter subjektif dan melihat orang lain dengan kacamata kuda sehingga tidak jarang salah memahami dan menyikapi peristiwa secara tidak arif. Hal itu karena minimnya kesadaran empati dalam memahami kelemahan, kesalahan, kekurangan, kejahilan dan kenaifan orang lain yang sebenarnya boleh jadi merupakan ujian kepekaan dan kejelian dalam mendulang hikmah dan pelajaran di balik berbagai peristiwa yang dilakoni orang lain tadi, alih-alih menjulurkan simpati. Empati menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain. Simpati dalam KBBI diartikan sebagai:

1. rasa kasih; rasa setuju (kepada); rasa suka
2. keikutsertaan merasakan perasaan (senang, susah, dsb) orang lain: rakyat yang menderita akibat bencana alam itu mendapat simpati dari berbagai kalangan.
Suatu ketika para sahabat yang sedang berada di masjid Nabawi terusik kesyahduan dzikir mereka dan spontanitas bereaksi emosional tatkala seorang laki-laki Arab badui tiba-tiba berulah kencing di dalam masjid yang saat itu lantainya masih berupa tanah. Demi melihat situasi panas tersebut Rasulullah saw dengan penuh empati dan kelembutan menyikapi dan meluruskan peristiwa tesa dan antitesa sikap reaksi berang sahabat dan aksi bodoh Arab badui tersebut. Beliau memerintahkan para sahabat untuk bersabar dan membiarkan Arab badui menyelesaikan hajatnya serta meminta mereka menyiram bekas kencingnya agar merembes ke tanah dan hilang najisnya. Setelah situasi reda dan dapat diatasi, Rasulullah segera memanggil mereka semua. Beliau memberikan bimbingan kepada para sahabat tentang sikap empatik yang akan membawa hikmah yaitu dengan memaklumi ketidaktahuan Arab badui tersebut, menyadari reaksi kesabaran akan dapat menyelesaikan masalah tanpa menimbulkan masalah baru.
Para sahabat akhirnya mengerti bahwa sikap empati yang membuahkan solusi masalah dengan menyiram dan membersihkan kencing sebagai pelajaran bagi si badui bahwa perbuatannya tidak benar yang telah mengotori tempat yang seharusnya dijaga kesuciannya. Selain itu, mereka menyadari bahwa bersabar menanti selesainya kencing si badui akan menghindari tiga mudharat yakni gusarnya si badui yang merasa terusik hajatnya, menyakiti saluran kencing si badui yang terganggu kelancarannya, dan meluasnya area najis akibat kepanikan si badui dalam menuntaskan hajatnya. Kepada si badui Nabi saw memberikan pemahaman secara halus bahwa perbuatannya tidak benar karena telah kencing di masjid dan itu tidak pada tempatnya sebab masjid dibangun sebagai tempat suci untuk dzikrullah dan shalat. Jelang mendapat penjelasan empatik Nabi, si badui sangat terpesona padanya dan sebaliknya masih kecewa dengan sikap berang sahabat seraya berdoa “Ya Allah masukkanlah aku dan Muhammad ke dalam surga dan janganlah Engkau masukkan ke dalamnya seorang pun selain kami.” Lagi-lagi demi mendengar doa yang tidak arif itupun nabi menyikapinya dengan penuh empati demi melihat kenaifannya tanpa membodoh-bodohkannya seraya meluruskan doanya: “Wahai kamu, ketahuilah bahwa surga itu sangat luas dan jika kita berdua saja yang masuk niscaya akan sangat kesepian”.
Pada saat yang lain, kita saksikan sejarah Nabi yang telah membuktikan samudera jiwa empati tatkala seorang laki-laki dengan langkah tergesa-gesa menghadapnya. Nafasnya masih tersengal, turun-naik, sementara jantungnya berdetak cepat. Rasulullah menyambutnya dengan penuh santun. “Celaka bagi kami, wahai Rasulullah,” begitu ia mengawali pembicaraannya. “Aku telah melakukan hubungan suami-istri di siang Ramadhan.” Nampaknya lelaki ini sadar bahwa perbuatannya telah melanggar syariah, yang karenanya ia harus menerima sanksi Rasulullah kemudian memberi petunjuk agar lelaki itu memerdekakan seorang budak. Lelaki tersebut menggelengkan kepala tanda tidak sanggup melaksanakannya.
Maka Rasulullah memberikan alternatif kedua, yaitu puasa selama dua bulan berturut-turut. Lagi-lagi lelaki tersebut menggeleng. Ia merasa tidak mampu untuk melakukannya. Dalam hatinya ia berkata, ‘Jangankan dua bulan, sedang yang satu bulan saja sudah dilanggar.’ Rasulullah menawarkan solusi ketiga, yaitu memberi makan 60 orang fakir miskin. Untuk yang ketiga kalinya ia mengatakan tidak sanggup. Ia katakan bahwa untuk kebutuhan makan sehari-hari saja sudah sering mendapati kesulitan. Apalagi harus memberi makan kepada orang lain.
Dengan penuh kasih sayang Rasulullah kemudian memanggil istrinya agar mengambil bahan makanan yang masih tersisa di rumahnya hingga cukup untuk menebus kewajiban lelaki tersebut. Sambil memberikannya, Rasulullah berpesan agar bahan makanan itu dibagikannya kepada fakir miskin di kampungnya. Dengan sedikit menahan malu, lelaki tersebut berkata polos, “Di kampung kami, orang yang paling miskin adalah saya sendiri.”Kepolosan lelaki itu ternyata membawa berkah tersendiri. Rasulullah menyampaikan agar bahan makanan itu diterima dan dimanfaatkan sepenuhnya untuk memenuhi kebutuhan anak istrinya. Ia pulang dengan perasaan suka cita. Selain mendapatkan bahan makanan, puasanya juga sudah tertebus. Dua keuntungan sekaligus diperoleh, keuntungan materi sekaligus keuntungan ukhrawi.
Kisah seperti ini rasanya sulit dimengerti untuk ukuran sekarang. Bagaimana seorang pemimpin dapat berlaku begitu santun. Sulit ditemukan sosok pemimpin yang luwes, lapang dada, santun, dan sabar memenuhi segala tuntutan ummatnya sebagaimana Rasulullah. Andaikata menemui lelaki seperti dalam kisah di atas, barangkali kita akan menghardiknya dengan kata-kata kasar, “Sudah tahu tidak mampu menebus dendanya, kenapa kamu sampai melanggar?” Atau kita katakan, “Pokoknya itulah ketentuan syariat, titik. Dengan cara apapun harus kamu upayakan. Pokoknya nggak mau tahu salahmu sendiri melanggar. Rasain sendiri akibatnya habis macam-macam saja.” Jangankan ikut membantu meringankan bebannya dengan memberi bahan makanan, memberi santunan dengan kata-kata yang halus dan menghibur saja mungkin sulit kita lakukan.
Di sinilah terletak rahasia sukses kepemimpinan Rasulullah. Beliau bisa bersikap tegas, tapi lebih sering bersikap lemah-lembut kepada ummatnya. Justru sikap yang terakhir itu lebih dikedepannya dalam menghadapi setiap persoalan. Beliau bisa marah, tapi sikap pemaafnya jauh lebih luas dari segalanya. Apalagi jika berhadapan dengan sesama ummat Islam. Allah sendiri menegaskan: “Muhammad itu adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih-sayang sesama mereka.” (QS. al-Fath: 29)
Itulah sebabnya Rasulullah sangat dicintai ummatnya. Saking cintanya, dalam sebuah bai’at, seorang lelaki pernah mengatakan, “Andaikata kita menyeberangi lautan dengan kapal, kemudian di tengah lautan kita diperintahkan oleh Rasulullah untuk mencebur ke laut, pasti kita lakukan.” Kepada ummatnya, Rasulullah selalu mengedepankan sifat kasih sayang. Beliau berusaha mempermudah ummatnya dalam melaksanakan syariat agama. Bukan sebaliknya, memberi beban yang akhirnya tak mampu dipikul oleh mereka.
Ketika Isra’ dan Mi’raj Rasulullah menyampaikan usulan kepada Allah agar ummatnya diberi beban yang tidak terlalu berat dalam menunaikan ibadah shalat. Akhirnya ditetapkan shalat lima kali dalam sehari, sebagai suatu kewajiban yang sangat ringan. Jika masih ada yang merasa keberatan, barangkali nafsunya yang terlalu dominan.
Suatu saat beliau hendak mewajibkan bersiwak (gosok gigi) bagi kaum muslimin setiap hendak mendirikan shalat. Akan tetapi karena takut kewajiban itu memberatkan, maka akhirnya tidak beliau undangkan, meskipun bersiwak itu manfaatnya sangat besar dalam upaya menjaga kesehatan. Bagi yang bersiwak disiapkan pahala besar, sementara yang tidak melakukannya juga tidak diancam apa-apa. Akhirnya bersiwak hanya menjadi anjuran. Sikap demikian itu sejalan dengan ketentuan Allah, yang dinyatakan dalam al-Qur’an: “Allah menginginkan kemudahan bagimu, dan tidak menginginkan kesulitan bagimu.” (QS. al-Baqarah: 185)
Ketika Rasulullah mengutus dua orang sahabat, yaitu Abu Musa dan Mu’adz ke Yaman untuk berdakwah, beliau berpesan, “Gembirakanlah dan jangan kau takut-takuti. Mudahkanlah dan janganlah engkau mempersulit.”
Tugas seorang da’i, muballigh, ustadz atau guru agama adalah memberi jalan kemudahan bagi ummat Islam agar dapat menjalankan perintah Islam dengan sebaik-baiknya. Dalam hal ini, seorang juru dakwah wajib mempunyai bekal ilmu yang cukup, di samping sikap yang arif. Ilmu yang luas menjadikan seseorang lebih bisa bersikap luwes dan lapang dada. Sementara ilmu yang hanya pas-pasan biasanya mendorong seseorang bersikap keras dalam menghadapi suatu persoalan.
Luasnya ilmu dan wawasan akan nampak dalam sikapnya yang toleran. Dalam menghadapi persoalan ia tidak hanya menyodorkan satu alternatif, tapi tersedia berbagai pilihan. Orang lain diberi kebebasan untuk memilih sesuai kadar iman dan kemampuannya.
Allah sendiri ketika menyerukan hamba-Nya untuk bertaqwa, Dia menggunakan dua kalimat perintah. Pertama, Allah berfirman, “Bertaqwalah kamu sekuat kemampuanmu.” Kedua, Allah berseru, “Bertaqwalah kalian dengan sebenar-benar taqwa, dan janganlah kalian mati sehingga kalian benar-benar Islam.” Yang pertama ditujukan kepada mereka yang kadar imannya masih dalam proses penyempurnaan, sementara firman kedua ditujukan kepada mereka yang sudah siap menerima segala perintah dan larangan-Nya tanpa reserve.
Nabi saw juga menerapkan hal sama. Dalam menghadapi satu pertanyaan yang diajukan oleh dua orang berbeda, jawaban Nabi juga selalu berbeda, disesuaikan dengan kadar akal dan imannya. Nabi tidak memaksakan seseorang menerima hal yang sama, padahal kemampuan mereka untuk menerimanya sangat jauh berbeda. Di sini Rasulullah sangat memperhatikan “proses”, bukan hasil semata-mata.
Dalam kaitannya dengan persoalan di atas, dianjurkan kepada juru dakwah, guru agama, atau muballigh agar lebih bijak dalam menyampaikan persoalan-persoalan agama. Jika ada dua pilihan, kenapa harus kita pilihkan satu saja? Bukankah mereka juga berhak memilih sesuai dengan kondisi dan keadaannya?
Bahkan dalam hal ini, jika ada dua perkara yang sama-sama diperbolehkan oleh syariat, hendaknya kita memilih yang termudah. Kita tidak boleh bersikap terlalu keras, karena yang demikian itu justru menyimpang dari sunnah. Sikap tasyaddud, ekstrim, dan berlebih-lebihan sebagai cerminan kerasnya hati dan keringnya rasa empati sama sekali tidak disukai oleh Rasulullah. Selama tidak mengandung dosa, Rasulullah lebih memilih yang termudah dari dua perkara yang sama-sama boleh, ibahah. Sikap itulah yang hendaknya kita pilih, bukan sebaliknya. Dalam sebuah pesannya, beliau bersabda: “Hendaklah kamu bersikap lemah-lembut dan jangan bersikap kasar. Sesungguhnya, tidaklah sikap lemah lembut itu ada pada sesuatu kecuali menghiasinya, dan tidak pula ia lepas dari sesuatu kecuali mengotorinya.” (HR Muslim)
Sikap para elit, tokoh, ulama, da’i, muballigh, pemimpin dan guru yang lebih menyukai sesuatu yang berat dan minim jiwa empati dalam menjalankan dan menegakkan risalah kebenaran pada dasarnya tidak sesuai dengan sunnah, keluar dari teladan Rasulullah saw. Sikap demikian sesungguhnya lebih terkait dengan kejiwaan. Itulah sebabnya, seorang muslim dianjurkan untuk terus-menerus melakukan pembersihan hati, tazkiyah, agar memiliki jiwa yang bersih, dada yang lapang, dan hati yang dipenuhi rasa kasih dan sayang.
Jika ada benih-benih keinginan untuk mempersulit atau memperberat suatu perkara, hendaknya para da’i segera meminta perlindungan dari Allah, memperbaharui iman, dan mensucikan hati dari sifat dendam dan iri hati. Jauhkanlah diri dari tipu daya setan. Sesungguhnya kita memerlukan ruh dari langit sehingga dapat menempuh jalan dien ini dengan mudah. Hal itu dapat kita peroleh jika kita memenuhi rongga dada kita dengan sifat kasih sayang, terutama pada diri sendiri. Caranya, jangan memaksakan diri, tidak mengangkat beban di luar kemampuan kita yang sebenarnya. Jika terhadap diri sendiri, kita sudah bersikap kasih dan sayang, maka kepada orang lain juga kita kembangkan sikap yang sama. Kasih sayang itu akan mengarahkan kita kepada sikap yang menghormati kemampuan dan keterbatasan orang lain. Jika dengan semua orang kita harus bersikap empati termasuk dalam merealisasikan dan menyebarkan pemikiran dan pemahaman kita, maka dengan orang-orang terdekat yang kita kasihi seharusnya lebih sensitif dan peka dalam empati dan tidak asal memaksakan kehendak dan ego.
Stephen R. Covey (1999) mengingatkan kita untuk memahami implementasi makna empati secara benar. Kebanyakan dari kita tidak berusaha untuk memahami dahulu, tetapi sebaliknya ingin dipahami dahulu posisi dan pemikiran kita. Atau jika kita ingin berusaha memahami, kita sering sibuk mempersiapkan tanggapan kita dan reaktif saat kita menyaksikan kejadian, menghadapi sikap atau mendengarkan pernyataan orang lain. Jadi, kita lebih sering mengevaluasi, menyarankan, menyelidiki, atau menerjemahkan dari sudut pandang kita sendiri sebelum memahami konsideran sikap dan peristiwa serta kesejatian masalah. Dan tidak satu pun dari ini adalah tanggapan empatik yang memahami. Semuanya berasal dari kesejatian diri kita, dunia kita dan nilai-nilai kita secara searah.
Dalam rangka mengasah empati itulah diperlukan riyadhah melatih diri dalam memberi petunjuk kepada siapa saja yang mendapati kesulitan, memaafkan atas semua kekhilafan, berlapang dada atas segala kealpaan, menuntun orang ke jalan yang terang tanpa harus mencari-cari kesalahan dan membuka aibnya. Bukankah Allah selalu berpesan: “Serulah kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl:125), dan telah menegaskan: “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat:33). []



Dakwatuna.com